Mata Dibalas Mata

Tentang degup jantung yang kau curi

Aku menuntut kau pulangkan ia, entah bagaimana  

Juga kelopak-kelopak waktu yang gugur dan berlalu untuk mencermatimu

Aku ingin hukum rimba,

Mata dibayar mata

Nelangsa dibayar nelangsa 

Aku tahu kau tak akan sanggup, 

Jadi kuringankan saja dengan satu pinta: ukir namaku di rusukmu  

Mungkin kini aku terdengar gila,  

Namun perasaanku adalah api—  

Tidak membakar jantungku, tapi melalap kewarasanku  

Suaramu tidak kudengar lagi, tapi sial manusia punya memori

Di kepalaku suaramu bergema sendiri tidak habis-habis

Sangat tidak adil bahwa mungkin hanya aku yang begini

Hei,

Seperti apa rasanya hidup yang kau beli dengan memunggungiku?

Komentar

Postingan Populer