Kamu Sudah Berlayar Sedang Aku Masih Bersauh

 Bagaimana, Ji?


Apakah badai masih berkecamuk di lautan mimpimu?
Bagaimana angan yang kau bangun dari serpihan malam?
Sudahkah kau temukan jawab,
Atau masih tersesat di antara kabut fajar?

Dengan kacamata itu,
Bukankah katamu pandangan samar jadi lebih jelas?
Namun mengapa, Ji,
Justru tatapanku yang tampak pudar.

Ah, Maaf,
Aku lupa menanyakan kabarmu,
Tapi mungkin karena aku tau,
Kamu akan baik-baik saja
Selama keluarga, sahabat, dan kucingmu ada.

Jadi, kamu baik-baik saja kan?
Bagaimana kehidupan memperlakukanmu belakangan?
Kuharap ia melunak,
Tak lagi menggoresmu seperti dulu

Malam itu menjelang akhir tahun,
Harap dan logika kita masih sepadan
Kita singgah di kedai kopi yang jaraknya beberapa petak dari pom bensin
"Mampir dulu, ya" katamu.
Biarkan waktu tertunda sejenak di antara kita.

Kita duduk menghadap jalan yang belum lengang
Malam sudah larut tapi suara kendaraan masih menggema,
Lalu kamu mulai terbuka,
Bercerita tentang rumah,
Juga mimpi yang belum menemukan pijakan.

Aku diam, mendengarkan,
Meraba makna di balik setiap helaan nafasmu.
Di matamu, Ji,
Aku melihat retakan yang tak bisa kutambal,
Luka-luka dibalik senyummu yang getir.
Ingin aku memelukmu,
Namun jemariku terhenti di udara.

Beberapa saat setelahnya,
Ketika akhirnya kita bernama,
Peluk adalah pintamu yang pertama.
Ternyata aku benar, Ji,
Kamu membutuhkannya lebih dari apapun saat itu.

Ji, kamu adalah samudra
Tempat aku belajar membaca arus.
Hidup kadang angin yang membelai,
Kadang badai yang menghantam.
Kita hanyalah perahu,
Yang terkadang ingin bersauh,
Namun gelombang terus memaksa kita berlayar.

Aku belajar banyak tentang hidup,
Bukan sepenuhnya darimu memang—
Kekuatan sudah kupelajari sejak lama
Namun darimu, Ji,
Aku belajar melihat dunia lebih jelas,
Dari balik kacamata abu-abumu.

Maafkan aku, Ji,
Seringkali aku merintih untuk hal kecil,
Sementara bahumu memikul beban besar.
Aku suka bersandar padamu,
Suka menjadi rapuh di hadapanmu,
Aku suka membutuhkanmu.

Kini, aku masih belajar menyeberang jalan dengan berani, Ji.
Terkadang kucari sosokmu di antara kerumunan orang,
Bertanya-tanya, apakah aku melihatmu,
Atau hanya ilusi,
Karena aku hafal kebiasaanmu di arus jalan yang tak putus-putus.

Aku menyesal, Ji.
Terlalu malu untuk mengatakannya dulu:
Betapa aku senang bertemu denganmu.

Aku tak akan melawan,
Aku akan menuntaskan, jika memang diperlukan
Kota ini mendadak sunyi,
Padahal sejak awal kamu memang bukan bagian dari sini.

Sekarang sudah Januari lagi, Ji.
Hanya saja aku baru berani menulis ini,
Dan seperti biasa, aku masih sering merindukanmu.
Namun kali ini, lebih sulit Ji,
Karena aku tak lagi punya penawarnya.

Komentar

Postingan Populer